Monday, February 15, 2016
Berapa banyak saudaramu yang mendoakanmu? Itulah alasan mengapa kamu masih bertahan
Mungkin Allah geram dengan kita, untuk setiap amanah yang terlalaikan, kewajiban yang terabaikan dan hak yang tak ternunaikan. Karena itu, rasanya tak pantas mengaku bahwa bertahannya kita adalah karena doa kita sendiri.
Bahkan salah satu asbab masih berdirinya kita dalam jamaah ini adalah doa mereka yang menguntai sampai ke langit, yang tak pernah henti menyebut kita dalam sujudnya agar allah istiqomahkan kita dalam lingkaran ini.
Atau mungkin bertahannya kita saat ini karena malam-malam panjang saudara kita yang selalu mengupayakan dengan segenap keterbatasannya merangkul kita agar tidak berkurang kekuatan dalam barisan ini.
Bekerja dalam jamaah terkadang menuai kecewa, menyisakan lelah hingga menyesakkan dada. Bagaimana hati harus belajar menjaga, menahan, dan terus membenteng dalam khusnudzan. Tapi akan lebih payah kaki ini jika memutuskan untuk tak berjamaah, memutuskan untuk menyelam bebas sendiri tidak akan menyelesaikan solusi, yang ada hanya akan menambah frustasi.
Untuk hati-hati yang masih terjaga dalam jamaah bertahanlah!
Bertahan karena dan untuk mereka yang dalam diam mendoakanmu dalam untaian rabithohnya. Biarkan kau menyaksikan indahnya doa doa saudaramu yang menguntai sampai k langit, menjadi kekuatan sendiri untuk tetap bertahan dalam barisan ini.
Untuk hati yang masih terjaga dalam jamaah, bertahanlah!
Dengan kesabaran yang lebih lama lagi, dan keikhlasan yang lebih baik lagi. rasanya kita perlu periksa hati saat futur itu melanda, perlu mengobati hati saat mulai terjatuh dalam titik terlemah serta perlu mengistirahatkan hati yang sedang menganga dan mengobati hati yang perih terluka.
Karena doa saudaramu, kau bertahan
Karena doa saudaramu, kau pun terjaga.
Untuk kalian yang tak pernah henti merajut untaian rabithoh dlm barisan ini, rasa syukur dariku yang tak cukup ku bayarkan karena telah Allah perkenalkan aku kepadamu. Dalam daomu kau jaga aku, dan dalam doamu kau kuatkan aku.
Yang juga mendoakanmu dalam diam,
Tuesday, April 21, 2015
Menghimpun berserak "rindu" dalam ikhtiar
Sejatinya aku tengah amnesia. Sejak dahulu aku memejam semua indra, menyublim seganjil asa. Meski paruh waktu yang menggerogoti logika, pada luka yang menghimpun puing memori.
Tentang rindu..
Tentang rindu..
Mungkin dulu terasa indah, mewarnai hampir setiap langkah. Namun rindu, kini hadirnya mematikan rasa, mengikis semua memori jahiliah
Saat rindu datang, aku bisa apa?
Aku hanya bisa mengeja kerinduan dengan barisan aksara yang kuantar padamu. Dalam sewujud surat tanpa nama yang tak pernah jemu aku rangkai. Meski aku tak pernah tahu siapa dirimu, di mana keberadaanmu, dan kapan kehadiranmu.
Saat rindu datang, lantas aku bisa apa?
Hanya diam membisu, mengingat apa yang Allah takdirkan bisa saja berbeda. Mungkin lidah mampu menyilat kata, namun mata tak mungkin berdusta. Gerak yang berbaur tak mungkin tak jujur.
Ada yang berkecamuk di hati, entah itu rindu, cinta, atau nafsu
Tuhan.. Perbolehkan aku mencuri senoktah saja maghfirah-Mu..
Dan untukmu yang selalu kurindu dalam lantunan mushaf kesayanganku,wahai engkau yang memeluk resah dalam noktah. Meski belum bertemu, aku bahkan pernah mengenalmu, entah untuk sebuah imajinasi atau memang sudah Allah takdirkan terjadi.
Wahai engkau yang mencumbu khawatir dalam dzikir, istiqomahlah!
Wahai engkau yang berkutat pada kertas, buku dan diktat, fokuslah meramu mimpimu!
perlahan Allah akan tunjuki jalannya.
Wahai engkau yang menggalau rindu, tersenyumlah!
Tetaplah pelihara hatimu dari segala noda, tak melupa Sang Mahacinta.
Tentang rindu..
Demi engkau, sebuah nama yang Tuhan jaga.. penantian bukanlah suatu hal yang menyesakkan, melainkan sewujud rindu yang memahkotakan senyuman. Aku tetaplah utuh sebagai seorang munfarid, hanya hingga restu Tuhan tercipta untuk berjamaah denganmu. Engkau, sebuah nama yang selama ini tuhan jaga.
Izinkan aku Rabb, menantinya dengan sepenuh khusyuk, bukan dengan berleha. Melainkan dengan segenap ikhtiar yang menghimpun berserak rindu.
Izinkan aku Rabb, berjumpa dengannya dalam restu cinta-Mu, bukan dengan tergesa. Melainkan segera menujunya untuk semakin dekat dengan-Mu.
(postingan ini kupersembahkan untuk keluarga KOMBUN UNJ)
#EdisiAprilRindu
https://twitter.com/BLOGGER_UNJ
Monday, April 20, 2015
Social Womanpreneur: Berdayakan Wanita untuk Berdikari
Keterlibatan perempuan dalam berwirausaha menghasilkan berbagai macam pandangan dari berbagai macam kalangan, baik yang pro, maupun yang kontra. Adapun pandangan pihak yang kontra terhadap peran wanita sebagai pengusaha terkadang mengabaikan permasalahan dalam rumah tangganya, selain itu pandangan terhadap wanita yang bekerja dan memiliki penghasilan lebih banyak dari suaminya seringkali menjadi tidak bersifat etis dalam rumahtangganya. Mulai dari kurang menghargai sampai bersikap terlalu dominan terhadap pasangannya.
Padahal saat ini keikutsertaan peran perempuan dalam berkarir tidak lagi mengedepankan keinginan menjadi super woman yaitu “perempuan yang tanpa bantuan”. Karena ikut sertanya peran perempuan dalam bekerja membutuhkan peranan seorang suami yang selalu mendukungnya, selain itu bukan karena semata-mata permasalahan ekonomi. Manfaat bekerja bagi mereka adalah memberikan kepercayaan diri, menambah pergaulan, dan membuat mereka berdiri di kaki sendiri secara ekonomi.
Dalam beberapa tahun belakangan ini, terutama sejak terjadinya krisis ekonomi di tahun 1997 perhatian terhadap pemberdayaan perempuan dalam kegiatan berwirausaha pun mulai bermunculan. Perhatian tersebut tidak hanya muncul dari dunia akademisi tetapi juga dari para pengambil kebijakan praktisi, dan lembaga-lembaga masyarakat non pemerintahan. Di pedesaan pun sangat membantu pemerintah dalam menanggulangi masalah kemiskinan. Oleh karena itu Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) merupakan suatu mobilitas bagi perempuan dalam mengembangkan usahanya, selain itu UMKM merupakan sebagai tempat pengujian dan pengembangan kemampuan kewirausahaan wanita.
Dari data diatas menunjukan bahwa jumlah wanita pengusaha di Indonesia, terutama di UMKM mengalami peningkatan sejak tahun 1980-an bersama dengan era pertumbuhan ekonomi tinggi yang mendorong peningkatan pendapatan masyarakat per capital yang pesat. Data kepemilikan UMKM menunjukan secara rinci bahwa sebanyak 44,29% usaha mikro dikelola oleh perempuan, demikian pula di sector usaha kecil sebanyak 10,28% . Sedangkan dalam laporan Mentri Pemberdayaan Perempuan Oktober 2007 dalam dalam Widowati 2012 menyatakan bahwa 60% dari 41 juta pengusaha mikro dan kecil di Indonesia adalah perempuan.
Peningkatan peranan wanita dalam berwirausahan mampu menciptakan sosok Tatiek Kancaniati sebagai social womanpreneur. Tatiek Kancaniati seorang ibu dari tiga orang anak, dan mempunyai seorang suami pegiat pemberdayaan masyarakat juga di Dompet Dhuafa. Kiprahnya di dunia pemberdayaan masyarakat khususnya wanita menjadi passion hidupnya. Tatiek lahir di Bogor, 1 Oktober 1974. Menyelesaikan pendidikan dari Fakultas Komunikasi Penyiaran Islam Syahid, Diploma III Fateta IPB, Akta IV IKIP Jakarta. Seorang social womanpreneur leader yang saat ini bekerja sebagai Trainer Social Entreprenuer Leader dan wiraswata.
Kecintaan Tatiek pada dunia wirausaha merambah ke level yang lebih tinggi setelah dirinya mengikuti studi Social Entrepeneur Leader Dompet Dhuafa pada tahun 2008 silam. Pelatihan selama satu tahun tersebut diakuinya telah membuka pikiran dan mata hatinya untuk menerapkan entrepreneur berbasis pemberdayaan masyarakat dan berkontribusi sosial dalam meningkatkan taraf hidup para kaum dhuafa. Lewat ketekunan dan semangat pengabdian, Tatiek Kancaniati berhasil mengubah wajah kampung yang mulanya mati dari geliat bisnis menjelma sebagai kampung wisata. Berkat kerja kerasnya Desa Tegal Waru kini mampu menyedot pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak sekolah, mahasiswa, ibu-ibu PKK, majelis taklim, hingga pebisnis dari seluruh Indonesia.
Sebelumnya, pada tahun 2006, Tatiek telah mendirikan Yayasan Kuntum. Yayasan yang namanya merupakan singkatan dari Kreativitas Usaha Unit Muslimah ini ia buat untuk memberdayakan wanita pedesaan agar wanita mampu berdikari secara ekonomi, tidak melulu menikah di usia muda serta tidak bekerja di garmen dengan upah kecil. Diperkuat dengan pelatihan-pelatihan dan niat yang kuat, yayasan ini berkembang menjadi Kuntum Organizer yang menangani pemberdayaan masyarakat satu desa. Tatiek memberdayakan ekonomi perempuan desanya dengan memberikan berbagai pelatihan keterampilan untuk usaha rumahan sehingga isu pernikahan dini serta putus sekolah bisa terpecahkan.
Tentu langkah yang dilakukan Tatiek tak semudah membalik telapak tangan. Butuh ketekunan, kerja keras, dan semangat pengabdian. Tidak hanya membekali teori, Tatiek ingin menunjukkan langkah konkret. Lewat Yayasan Kuntum (Kreativitas Usaha Unit Muslimah) yang didirikannya tahun 2006. Ia merancang sebuah program yang bisa menginspirasi, sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat akan entrepreneur . Langkah-langkah yang dilakukan Tatiek antara lain melakukan pemetaan sosial dan ekonomi beserta masalahnya. Ia bekerja sama dengan kelurahan dan kecamatan untuk menggali data-data tersebut. Selanjutnya, ia mendirikan Koperasi Kampoeng Mandiri.
Mimpi dan harapannya masih besar, ke depan kegiatan yang dirintis ini bisa menjadi model dan ditiru tempat lain sehingga gerakan perekonomian dari desa/kampung tercapai lebih cepat. Lewat kerja kerasnya selama ini, Tatiek berharap agar para wanita mampu berdiri di atas kaki sendiri secara ekonomi. Peran seorang wanita dalam UMKM merupakan suatu bukti bahwa seorang perempuan mampu membantu perekonomian keluarganya. Wanita harus mampu menjadi social womanpreneur. Wanita dengan segala kelebihan sangat pas memilih jalan sebagai Social Entrepreneur,sikap wirausahawan sosial adalah individu yang bervisi, berjiwa pengusaha, dan beretika, yang mampu menciptakan inovasi sosial dan mampu mengubah sistem yang ada di masyarakat.
Peran wanita disinilah bagaimana menjadikan rumah dan lingkunganya sebagai basis kekuatan ekonomi. Jadi jika seorang wirausaha bisnis mengukur keberhasilan dengan keuntungan dan pendapatan, maka wirausahawan sosial diukur keberhasilannya dari dampak aktivitasnya terhadap masyarakat yang tentunya membawa kebaikan dan meningkatnya harkat kaun lemah.
Wednesday, February 4, 2015
Mengenal Lebih Dekat Departemen dan Biro BSO KSEI UNJ
Dari sini, berangkatlah kita..
Hingga catatan-catatan yang tertoreh pun beraneka. Semuanya punya makna. Dan semua itu perlu kita dokumentasikan untuk cerita esok, bagi penerima estafet perjuangan.
1. BIRO INKESTRA
Proker:
Induk Usaha Berbasis Syariah yang kerap kali disebut INKUBASI adalah sumber kekuatan gerak KSEI dibidang pendanaan. Punggawa-punggawa INKUBASI selalu memiliki inovasi tak terbatas dalam menerapkan bisnis syariah. Biro ini berfokus pada manajemen keuangan KSEI melalui fund rising. Tidak hanya teori, biro ini menerapkan bagaiman cara bertransaksi secara syariah dengan produk-produk syariah. Salah satu produk terkenalnya adalah SUKUK atau biasa kita kenal dengan obligasi syariah.
Proker:
3. DEPARTEMEN KAJIAN
Ibarat satu tubuh, kajian adalah otak dari kelompok studi ini, menjadi pusat syaraf-syaraf pergerakan keilmuan ekonomi islam. Ibarat sebuah lilin, kami senantiasa siap menjadi cahaya ilmu dalam kegelapan ruang ekonomi kapitalis. Tujuan kami adalah membangun KSEI dalam pergerakan dakwah bernuansa ilmiah melalui kegiatan-kegiatan diskusi sebagai proses penguatan keilmuwan internal dan eksternal.
Proker:
4. DEPARTEMEN HRD
“Kaderisasi bukanlah segala-galanya, tapi segala-galanya dimulai dari kaderisasi” . Ibarat satu tubuh, HRD menjadi jantung hidupnya kelompok studi ini. Visi kami membangun pribadi punggawa KSEI yang memiliki karakter ekonom rabbani. Kami bergerak dalam penjagaan kualitas dengan nilai-nilai islami pada semua aspek, melatih keberjamaahan, serta mencetak aktivis gerakan dakwah ekonomi islam.
Proker:
5. DEPARTEMEN PUBLIC RELATION
Media akan menjadi sarana percepatan menuju kebangkitan ekonomi islam. Ibarat satu tubuh, PR adalah mulut dari kelompok studi ini. Tak pernah berhenti meneriakkan semangat dalam membumikan ekonomi islam. Kami mempunyai tujuan untuk memperluas ekonomi islam di tengah kehidupan. Pijakan kerja kami berawal dari rumah kami sendiri, yaitu terbentuknya masyarakat kampus intelek dan professional menuju kebangkitan islam.
Proker:
Non Proker:
Hingga catatan-catatan yang tertoreh pun beraneka. Semuanya punya makna. Dan semua itu perlu kita dokumentasikan untuk cerita esok, bagi penerima estafet perjuangan.
Ahlan wa sahlan calon punggawa BSO KSEI UNJ
Mari bergabung bersama kami, dalam barisan yang teratur. Merajut ukhuwah dalam dakwah bernuansa ilmiah.
Kami adalah nafas yang selalu menyegarkan dan memberi kenyamanan di KSEI. Menjadi tangan-tangan luar biasa dalam pengontrolan inventaris, aset serta buku-buku koleksi KSEI. Menjadi media kreatif dalam syiar ekonomi syariah di kalangan Fakultas Ekonomi melalui mading-mading syariah.
- Perpustakaan, mendata dan mengontrol serta mengurusi peminjaman buku-buku koleksi KSEI
- Inventaris. Mendata, mengontrol, serta melakukan pembaharuan terhadap inventaris dan aset di sekretariat KSEI guna memperlancar segala kegiatan/proker KSEI serta meminimalisir adanya kehilangan.
- Bedah Sekret. Melakukan inovasi tata letak sekretariat KSEI sehingga lebih menarik dan terus memberikan kenyamanan dalam menjalankan kegiatan
- Madrasah. Menjadi media kreatif dalam syiar ekonomi islam melalui majalah dinding yang berisi ilmu dan pengetahuan ekonomi islam di FE UNJ.
- Sinar. Menjadi reminder penyatuan sinergi di dalam lingkaran ksei melalui satu hari memakai satu warna baju yang sama.
- Kalad (Kalender Milad). Menjadi reminder pada setiap punggawa KSEI ynag berulang tahun
- Keputrian. Menjadi wadah kumpulnya akhwat FE yang membahas tentang bagaimana cara wanita dalam bermuamalah.
- Buku Tahunan KSEI. Menjadi sebuah buku yang berisikan profil punggawa KSEI beserta foto dan dokumentasi semua program kerja yang telah terlaksana selama satu tahun masa jihad.
Induk Usaha Berbasis Syariah yang kerap kali disebut INKUBASI adalah sumber kekuatan gerak KSEI dibidang pendanaan. Punggawa-punggawa INKUBASI selalu memiliki inovasi tak terbatas dalam menerapkan bisnis syariah. Biro ini berfokus pada manajemen keuangan KSEI melalui fund rising. Tidak hanya teori, biro ini menerapkan bagaiman cara bertransaksi secara syariah dengan produk-produk syariah. Salah satu produk terkenalnya adalah SUKUK atau biasa kita kenal dengan obligasi syariah.
Proker:
- Udang (Usaha Dagang), usaha ini beroperasi menjual makanan dan minuman serta alat tulis di Gd.L
- Tamini (Tabungan Mini) Syariah, dioperasikan khusus untuk punggawa KSEI agar menciptakan budaya menabung
- KTC (KSEI Trade Center) merupakan program unggulan KSEI yang menyediakan jaket, pin, emblem, goodybag, dll. Semuanya dijual sepaket dan khusus untuk punggawa KSEI FE UNJ.
- Sukuk (Obligasi Syariah) merupakan alat funding untuk usaha dagang dengan sistem mudharabah.
3. DEPARTEMEN KAJIAN
Ibarat satu tubuh, kajian adalah otak dari kelompok studi ini, menjadi pusat syaraf-syaraf pergerakan keilmuan ekonomi islam. Ibarat sebuah lilin, kami senantiasa siap menjadi cahaya ilmu dalam kegelapan ruang ekonomi kapitalis. Tujuan kami adalah membangun KSEI dalam pergerakan dakwah bernuansa ilmiah melalui kegiatan-kegiatan diskusi sebagai proses penguatan keilmuwan internal dan eksternal.
Proker:
- DIKSI (Diskusi seputar Ekonomi Islam), menilik kejadian incidental yang terjadi pada ekonomi Indonesia bahkan dunia. Dikupas dari sisi ekonomi umum dan islam. Diadakan sebulan 2 kali.
- SEIS (Sharia Economics Informal Study) merupakan kuliah informal ekonomi islam sebagai salah satu sarana untuk menimba ilmu ekonomi islam dari para pemateri yang ahli sesuai bidangnya. Diadakan untuk eksternal umum dalam 6 minggu dengan 6 kali pertemuan.
- Rebooks (Resume Buku-buku), membaca buku dan menuangkan kembali dalam tulisan adalah salah satu cara efektif dalam belajar. Diadakan satu bulan sekali
4. DEPARTEMEN HRD
“Kaderisasi bukanlah segala-galanya, tapi segala-galanya dimulai dari kaderisasi” . Ibarat satu tubuh, HRD menjadi jantung hidupnya kelompok studi ini. Visi kami membangun pribadi punggawa KSEI yang memiliki karakter ekonom rabbani. Kami bergerak dalam penjagaan kualitas dengan nilai-nilai islami pada semua aspek, melatih keberjamaahan, serta mencetak aktivis gerakan dakwah ekonomi islam.
Proker:
- Small Group Discussion (SGD) merupakan diskusi kelompok dengan satu mentor yang dikhususkan untuk pengurus KSEI sebagai pembelajaran terarah dan intensif mengenai ekonomi syariah yang diadakan setiap minggu. Diskusi ini juga merupakan pembinaan keilmuwan yang diarahkan untuk mempersiapkan KSEI UNJ dalam ajang-ajang lomba. Setiap bulannya akan ada evaluasi pembelajaran berupa tes tertulis.
- Wisata Islam Ekonomi (WISE) merupakan program kerja kaderisasi aliansi dengan BSO Al Iqtishodi. Program ini bertujuan untuk melakukan pembinaan ruh, jasad dan akal untuk mahasiswa-mahasiswa muslim FE. WISE juga dijadikan gerbang untuk lebih dekat mengenal lembaga dakwah fakultas.
- Diklat Ekonomi Islam (DEI) merupakan program wajib yang telah disepakati oleh FoSSEI menjadi salah satu alur kaderisasi setiap kelompok studi ekonomi islam. DEI diperuntukkan untuk seluruh civitas akademik FE UNJ maupun anggota KSEI dari luar universitas. Bertujuan untuk mempersiapkan dan menciptakan kader-kader terbaik penerus tongkat estafet Kelompok Studi Ekonomi Islam.
- English Day, satu hari lebih interaktif dengan Bahasa Inggris
- Nemonea (One Month One Ayat), program menghafal minimal satu ayat dalam satu bulan yang berkaitan dengan ekonomi syariah
- KEPO-K (Knowing Every Person in KSEI), menyapa punggawa KSEI dengan ukhuwah. HRD lebih dekat dengan punggawa KSEI
- KBK (Kumpul Bareng KSEI), program bulanan yang diadakan oleh ikhwan dan akhwat dengan kegiatan berbeda. Melakukan segala kegiatan yang bertujuan untuk membangun kreativitas dan mengasah bakat. Seperti bermain futsal untuk KBK Ikhwan dan belajar memasak untuk KBK Akhwat.
- Mabit (Malam Binaan Iman dan Takwa) merupakan penjagaan dan pembinaan ruhiyah seluruh pengurus KSEI yang diadakan dua kali selama kepengurusan.
Media akan menjadi sarana percepatan menuju kebangkitan ekonomi islam. Ibarat satu tubuh, PR adalah mulut dari kelompok studi ini. Tak pernah berhenti meneriakkan semangat dalam membumikan ekonomi islam. Kami mempunyai tujuan untuk memperluas ekonomi islam di tengah kehidupan. Pijakan kerja kami berawal dari rumah kami sendiri, yaitu terbentuknya masyarakat kampus intelek dan professional menuju kebangkitan islam.
Proker:
- KGTS (KSEI Goes To School) merupakan strategi pembumian ekonomi islam di kalangan pelajar. Proker ini diadakan sekali dalam kepengurusan yang diadakan di SMA/sederajat.
- KGTF (KSEI Goes To Faculty) merupakan strategi pembumian ekonomi islam di kalangan mahasiswa, kami berkunjung ke fakultas-fakultas di UNJ untuk mensosialisasikan ekonomi islam. Diadakan sekali dalam kepengurusan.
- Studi Banding merupakan bentuk dari silaturrahim dan dijadikan sebagai alat ukur serta pembelajaran antar Kelompok Studi Ekonomi Islam
- KGTC (KSEI Goes To Company) merupakan kunjungan perusahaan atau lembaga keuangan syariah sebagai bentuk pembelajaran untuk menciptakan praktisi-praktisi ekonomi syariah yang professional
- Media Sosial, pembumian ekonomi islam dengan berbagai media sosial, terus update berita terkini dan meluaskan jaringan ke berbagai KSEI di Indonesia.
Non Proker:
- Sporter (Spread Information by Poster), menyebarluaskan informasi melaui poster-poster ekonomi syariah.
- Majalah Ekonomi Syariah
Saturday, October 25, 2014
Tampilkan Citra Islam Berprestasi Sebagai Akselerasi Menuju Generasi Islam yang Berkualitas
Islam sering kali diberikan gambaran oleh orang-orang dan golongan yang tidak pernah mengenalnya sebagai agama yang mundur dan memundurkan. Islam juga dikatakan tidak pernah menggalakkan umatnya untuk menuntut dan menguasai berbagai lapangan ilmu pengetahuan. Kenyataan dan gambaran yang diberikan itu bukan saja tidak benar tetapi juga bertentangan dengan hakikat sejarah yang sebenarnya. Pada masa lalu dan memang sudah ajaran Islam, bahwa jika seseorang menemukan alat atau apapun yang belum ada manusia yang menciptakannya, maka wajiblah baginya untuk menyebarkan hasil temuannya itu. Menyebarkannya kepada umat manusia agar mereka dapat mempermudah pekerjaannya dan menjadikan mereka semakin bersyukur kepada Allah.
Sejarah adalah fakta, dan fakta adalah sejarah. Sejarah telah membuktikan betapa dunia Islam telah melahirkan banyak golongan sarjana dan ilmuwan yang cukup hebat dalam berbagai bidang keilmuwan. Mereka tidak menuntut satu apapun, termasuk “hak paten” atau “upeti” lainnya akibat temuannya tersebut.Namun propaganda media tumbuh berkembang kian pesat seolah mencabut kebenaran dari akarnya. Dan dari orang-orang baratlah ilmu-ilmu itu kemudian dicuri, lalu dipatenkan atas nama mereka untuk mencari keuntungan. Banyak sekali penemuan-penemuan dari kebudayaan Islam yang tak tercatat sejarah.Dibalik karya mereka tersimpan sebuah peradaban Islam yang dibangun atas dasar prestasi. Lahirnya para ilmuwan Islam menjadi bukti bahwa Islam adalah agama yang kaffah, Islam tidak hanya memperhatikan aspek syariah, ibadah, dan muamalah tetapi juga menjunjung tinggi ilmu di atas amal.
Sejarah adalah fakta, dan fakta adalah sejarah. Sejarah telah membuktikan betapa dunia Islam telah melahirkan banyak golongan sarjana dan ilmuwan yang cukup hebat dalam berbagai bidang keilmuwan. Mereka tidak menuntut satu apapun, termasuk “hak paten” atau “upeti” lainnya akibat temuannya tersebut.Namun propaganda media tumbuh berkembang kian pesat seolah mencabut kebenaran dari akarnya. Dan dari orang-orang baratlah ilmu-ilmu itu kemudian dicuri, lalu dipatenkan atas nama mereka untuk mencari keuntungan. Banyak sekali penemuan-penemuan dari kebudayaan Islam yang tak tercatat sejarah.Dibalik karya mereka tersimpan sebuah peradaban Islam yang dibangun atas dasar prestasi. Lahirnya para ilmuwan Islam menjadi bukti bahwa Islam adalah agama yang kaffah, Islam tidak hanya memperhatikan aspek syariah, ibadah, dan muamalah tetapi juga menjunjung tinggi ilmu di atas amal.
Sekiranya kita hendak berbicara tentang Islam dan kemuliaan ternyata tidaklah cukup hanya berbicara mengenai ibadah ritual belaka, tidaklah cukup hanya berbicara seputar shaum, shalat, zakat dan haji. Berkaca pada Sang Suri Tauladan, Rasulullah SAW, beliau adalah orang yang sangat mencintai prestasi. Hampir setiap perbuatan yang dilakukan Rasulullah terjaga mutunya dan begitu mempesona kualitasnya. Shalat beliau adalah shalat yang bermutu tinggi, shalat yang prestatif, khusyuk namanya. Amal-amal beliau merupakan amal-amal yang terpelihara, kualitasnya bermutu tinggi, ikhlas namanya. Tak dapat dipungkiri beliau adalah pribadi yang sangat menjaga prestasi dan mempertahankan kualitas terbaik dari apa yang sanggup ia lakukan.
Sederet fakta logis semakin menguatkan bahwa “Muslim harus berprestasi!”. Jika tidak berprestasi, maka ada yang harus ditata dan dibenahi bagaimana kita berislam. Boleh jadi belum seshalih yang selayaknya. Ada rasa tak puas dengan prestasi seadanya, ada rasa tak nyaman dengan cita-cita yang tak segera dijemput, ada muhasabah pada ikhtiar diri selama ini. Jika ada yang bertanya mengapa umat Islam belum dikatakan unggul dalam hal kualitas di muka bumi ini,, sekiranya kita sudi merenung bahwa ada hal yang tertinggal dalam menyuritauladani Rasulullah. Rupanya kita belum terbiasa dengan kata prestasi, seolah terasa asing dengan kata kualitas. Dan kita pun kerap kali terpengaruh manakala mendengar kata unggul. Akibat tak terbiasa dengan istilah-istilah tersebut kita pun tak lagi merasa bersalah andaikata tak tergolong menjadi orang yang berprestasi.
Prestasi sebagai bentuk akselerasi menuju generasi Islam yang berkualitas. Prestasi akan menjadi nilai jual Islam dihadapan publik. Prestasi juga yang akan menjadi magnet syiar bagi objek dakwah sebagaimana para Nabi menjadikan mukjizat sebagai wasilah syiar mereka. Berpikirlah sejenak berapa banyak pemuda islam yang mahsyur dengan prestasinya? Ratusan, ribuan atau bahkan jutaan? Bukankah perbandingannya masih sangat jauh dibandingkan pemuda-pemuda di luar Islam? belum lagi propaganda media yang tak kunjung usai mempercantik berita para pemuda non Islam. Semakin banyak mereka yang menguasai prestasi di segala bidang keilmuwan, maka semakin cepat gerak kaum liberal menjauhkan pemuda Islam dari ketauhidannya. Mereka jadikan prestasi sebagai magnet ketertarikan generasi Islam saat ini. Tak akan pernah habis cara musuh-musuh Allah dalam mengelabuhi generasi Islam saat ini.
Prestasi adalah modal pembangunan generasi Islam yang lebih baik. Prestasi para pemuda Islam mencerminkan kadar berkualitasnya Islam itu sendiri. Dalam urusan duniawi, produk-produk yang unggul selalu lebih mendapat tempat di masyarakat. Lebih mendapatkan kedudukan dan penghargaan sesuai dengan tingkat keunggulannya. Semakin banyak pemuda-pemuda Islam yang berlabel
“prestatif” maka semakin kuat juga mereka menguasai semua ranah, menjadikannya sebagai peluang mendirikan panji-panji Islam di muka bumi. Selain itu, terciptanya pemuda Islam yang berprestasi mampu menampilkan citra baik di kalangan masyarakat.
Sudah merupakan sunnatullah bahwa yang mendapatkan predikat terbaik hanyalah orang-orang yang paling berkualitas dalam sisi dan segi apa yang Allah takdirkan di setiap episode kehidupan. Siapapun yang ingin memelihara Islam dan membangun keberkualitasannya, maka bagian yang harus menjadi pedoman adalah menjadi insan yang senantiasa menikmati perbuatan dan karya terbaik yang paling berkualitas. Prestasi dan keunggulan harus menjadi bagian yang lekat menyatu dalam perilaku kita sehari-hari.
Bangkitlah! Dan jangan menunda untuk menjadi generasi Islam yang unggul dan berprestasi dengan potensi yang telah Allah SWT anugerahkan kepada tiap diri hamba-hambaNya. Hanya pemuda Islam yang paling berhak menjadi manusia terbaik yang mampu menggenggam dunia daripada mereka yang ingkar tak mengakui bahwa segala potensi dan kesuksesan itu adalah anugerah Zat Maha Pencipta. “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia menyeru yang ma’ruf dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah”.
Tampilkanlah citra Islam yang berpretasi, jadikan itu sebagai senjata dakwahmu. Bangkit dan berprestasilah atas nama Tuhanmu yang telah memberikanmu segudang ilmu dengan akal tanpa batas.Gerakkan hatimu untuk senantiasa meningkatkan mutu dan kecewalah ketika mutu itu tak kunjung baik hari demi hari. Pertajamlah senjatamu itu dengan amal, sebarluaskan tanpa batas melebihi mahsyurnya berita para liberal.
Sederet fakta logis semakin menguatkan bahwa “Muslim harus berprestasi!”. Jika tidak berprestasi, maka ada yang harus ditata dan dibenahi bagaimana kita berislam. Boleh jadi belum seshalih yang selayaknya. Ada rasa tak puas dengan prestasi seadanya, ada rasa tak nyaman dengan cita-cita yang tak segera dijemput, ada muhasabah pada ikhtiar diri selama ini. Jika ada yang bertanya mengapa umat Islam belum dikatakan unggul dalam hal kualitas di muka bumi ini,, sekiranya kita sudi merenung bahwa ada hal yang tertinggal dalam menyuritauladani Rasulullah. Rupanya kita belum terbiasa dengan kata prestasi, seolah terasa asing dengan kata kualitas. Dan kita pun kerap kali terpengaruh manakala mendengar kata unggul. Akibat tak terbiasa dengan istilah-istilah tersebut kita pun tak lagi merasa bersalah andaikata tak tergolong menjadi orang yang berprestasi.
Prestasi sebagai bentuk akselerasi menuju generasi Islam yang berkualitas. Prestasi akan menjadi nilai jual Islam dihadapan publik. Prestasi juga yang akan menjadi magnet syiar bagi objek dakwah sebagaimana para Nabi menjadikan mukjizat sebagai wasilah syiar mereka. Berpikirlah sejenak berapa banyak pemuda islam yang mahsyur dengan prestasinya? Ratusan, ribuan atau bahkan jutaan? Bukankah perbandingannya masih sangat jauh dibandingkan pemuda-pemuda di luar Islam? belum lagi propaganda media yang tak kunjung usai mempercantik berita para pemuda non Islam. Semakin banyak mereka yang menguasai prestasi di segala bidang keilmuwan, maka semakin cepat gerak kaum liberal menjauhkan pemuda Islam dari ketauhidannya. Mereka jadikan prestasi sebagai magnet ketertarikan generasi Islam saat ini. Tak akan pernah habis cara musuh-musuh Allah dalam mengelabuhi generasi Islam saat ini.
Prestasi adalah modal pembangunan generasi Islam yang lebih baik. Prestasi para pemuda Islam mencerminkan kadar berkualitasnya Islam itu sendiri. Dalam urusan duniawi, produk-produk yang unggul selalu lebih mendapat tempat di masyarakat. Lebih mendapatkan kedudukan dan penghargaan sesuai dengan tingkat keunggulannya. Semakin banyak pemuda-pemuda Islam yang berlabel
“prestatif” maka semakin kuat juga mereka menguasai semua ranah, menjadikannya sebagai peluang mendirikan panji-panji Islam di muka bumi. Selain itu, terciptanya pemuda Islam yang berprestasi mampu menampilkan citra baik di kalangan masyarakat.
Generasi Islam tidak lagi dipandang sebagai generasi yang mundur bahkan jauh dari kejayaan, mereka tidak lagi dipandang sebagai generasi yang bodoh bahkan terbelakang, tidak lagi dipandang sebagai generasi yang tidak disiplin bahkan penggiat kerusakan. Para pemuda yang unggul akan bermanfaat lebih banyak daripada orang-orang yang tak memelihara dan meningkatkan mutu keunggulannya. Sehingga prestasi mampu mengakselerasi pembentukan generasi Islam yang berkualitas. Keberkulitasan generasi Islam telah mampu dibayar oleh segudang prestasi pemuda-pemudanya.
Sudah merupakan sunnatullah bahwa yang mendapatkan predikat terbaik hanyalah orang-orang yang paling berkualitas dalam sisi dan segi apa yang Allah takdirkan di setiap episode kehidupan. Siapapun yang ingin memelihara Islam dan membangun keberkualitasannya, maka bagian yang harus menjadi pedoman adalah menjadi insan yang senantiasa menikmati perbuatan dan karya terbaik yang paling berkualitas. Prestasi dan keunggulan harus menjadi bagian yang lekat menyatu dalam perilaku kita sehari-hari.
Menyatupadukan tubuh yang memberikan karya terbaik sesuai dengan syariat dunia dan hati yang memberikan keikhlasan terbaik sesuai dengan syariat agama.Demi generasi Al Islam yang berkualitas, tubuh seratus persen bersimbah peluh dan keringat akan memberikan upaya terbaik, otak seratus persen akan digunakan untuk mengatur strategi yang paling jitu, serta hatiseratus persen memberikan tawakal dan ikhlas terbaik dalam mendirikan diin ini.
Bangkitlah! Dan jangan menunda untuk menjadi generasi Islam yang unggul dan berprestasi dengan potensi yang telah Allah SWT anugerahkan kepada tiap diri hamba-hambaNya. Hanya pemuda Islam yang paling berhak menjadi manusia terbaik yang mampu menggenggam dunia daripada mereka yang ingkar tak mengakui bahwa segala potensi dan kesuksesan itu adalah anugerah Zat Maha Pencipta. “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia menyeru yang ma’ruf dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah”.
Tampilkanlah citra Islam yang berpretasi, jadikan itu sebagai senjata dakwahmu. Bangkit dan berprestasilah atas nama Tuhanmu yang telah memberikanmu segudang ilmu dengan akal tanpa batas.Gerakkan hatimu untuk senantiasa meningkatkan mutu dan kecewalah ketika mutu itu tak kunjung baik hari demi hari. Pertajamlah senjatamu itu dengan amal, sebarluaskan tanpa batas melebihi mahsyurnya berita para liberal.
Dengan prestasi engkau akan berdakwah lebih cepat dari biasanya, melibatkan ilmu dengan amal, menjadikan ketertarikan objek dakwah sebagai peluang tanpa batas mensyiarkan agama Allah. Prestasi pula yang akan menghidupakan magnet dalam diri kemudian menyebarkan daya tarik ke medan-medan dakwah dengan nyata. Bangunlah keberkualitasan agamamu di atas prestasi para pemuda-pemudanya, untuk bangsa, agama, dan almamater.
Sunday, July 20, 2014
Yuk Nikah ! Aku siap menemanimu menghafal Qur'an :)
Yuk Nikah... Aku siap menemanimu menghafal Qur'an
Ikhwah fillah gimana rasanya kalau ada seseorang yang mengatakan itu kepadamu? waduh pasti melting banget, bisa sport jantung di tempat ( saya juga hehhe..).
Tenang gausah shocked saya yang baru berumur 18 tahun tiba-tiba langsung menghiasi blog dengan kata "nikah". Ini pure judulnya bukan buat sendiri. Jadi gini, hari ini tepat Minggu, 20 Juli 2014 saya baru saja mengikuti kajian Ust. Yusuf Mansyur di Masjid Istiqlal. Nah, temanya yaa itu tuh. Dahsyat kan broooo....!!
Tenang ada yang gak kalah dahsyatnya dari ini, itu ustad bawa putra-putrinya yang masih bocah-bocah banget, daaaaan mereekaaaaaaaaaaa semua hafal qur'an, mereka lagi proses menuju hafidz/ah cilik. iri hati rasanya. Di sana kita para peserta kajian dipandu untuk berikrar seperti ini
" Bismillahirrahmaanirrahim.. Saya Ajeng Pratiwi umur 18 tahun. Insyaallah 25 tahun yang akan datang umur saya menjadi 43 tahun, kalau saya mulai menghafal Al Qur'an satu hari satu baris maka di 25 tahun yang akan datang saya akan menjadi hafidzah 30 juz di umur 43 tahun"
aamiin allahumma aamiin
kurang lebih begitu ikrarnya, benar-benar terharu. Mulai saat itu juga saya berazam untuk istiqomah menghafal Al Quran agar kelak saya bisa melihat kedua orang tua saya di wisuda langsung oleh Sang Maha Guru, Allah SWT. Aamiin
Ya walaupun sebelumnya saya sudah mulai menghafal, tapi rasanya semakin kuat saja niatnya untuk mengahafal.
lantas apa hubungannya ya dengan menikah??
heem pasti kalian menunggu kan, kepo kan. Jadi hubungannya dengan nikah, kalau saja kita sudah niatkan untuk menjadi hafidz/ah, apapun yang terjadi kita harus tetap menghafal. Nah, untuk mempermudah kita harus memiliki pasangan yang mempunya satu visi dengan kita. Tepat!! Menjadi Penghafal Al-Qur'an. Masih ingatkan janji Allah disurat An-Nur verse 26?? wuaah kalau urusan jodoh pasti paham kan ayatnya.
Laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, begitupun sebaliknya. Jadi bang ustad menekankan kalau kita hafidz/ah qur'an insyaallah jodohnya juga sama *eaaa, aamiin. Hayooo siapa yang mau estafet ayat sama imamnya nanti? setelah shalat tahajud, heningnya malam menjadi saksi , malaikat-malaikat melebarkan sayapnya seraya berdoa yang terbaik untuk kita. Of course it's the sweetest moment ever.
Apakah cukup dengan berhenti di diri kita saja? tentu tidak. Kita juga harus berusaha untuk mencetak generasi-generasi para penghafal Qur'an, kan kita juga mau di wisuda langsung oleh Sang Maha Guru.
Lakukan saja mengahafal sehari sebaris setidaknya kitas sudah melakukan One Day One Line. Kalau saja ketika dalam perjalanan Allah rindu dengan kita, memanggil kita dalam maut, insyaallah sudah Allah catat niat baik kita, atau siapa sangka Allah ridha memberi gelar hafidz/ah, walapun kita belum hafal 30 juz. Ingat !! :) niat baik kan sudah Allah catat dalam satu kebaikan meski tertunda pelaksanaannya.
Jadi paham kan?
Mari mulai sekarang buat proposal hidup; tujuan, visi & misi, termasuk kriteria calon imam. Tentunya yang punya satu visi ya :)
Sebuah nada membuatku terhanyut dalam keheningan
Tatkala ku bersujud pada Ilahi
Hening... Damai ...
Di atas sajadah yang membentang
Ku lantunkan wahyu Sang Pencipta
Terbata-bata, namun kau dengan sabar mengindahkannya
Membacanya, menyejukkan kalbu
Memahaminya, menenangkan jiwa
Mengamalkannya, limpahan pahala
Sungguh, hati kan rapuh bila meninggalkannya
Al-Qur'an, izinkan aku meminangmu, di keheningan malam
Wednesday, July 16, 2014
Mencintai dalam Hati Ternyata Kesalahan
Namaku Tulip, seorang gadis yang tidak pernah pacaran sama sekali, dan memang berprinsip untuk tidak mau pacaran, tapi langsung menikah saja. Prinsip itu menjadikanku terlihat lebih cuek terhadap pria. Bahkan, aku terkenal kaku untuk bisa berhadapan dengan pria. Hingga terkesan dari luar justru aku ini jutek. Awalnya itu tidak menjadi masalah bagiku, tapi mulai menjadi masalah saat usiaku semakin matang untuk menikah, saat hampir semua teman sebayaku sudah menikah.
Prinsip tidak mau pacaran yang kuanut kukira tadinya sudah cukup. Namun ternyata prinspi itu mengantarkanku untuk terjebak dalam situasi "Cidaha", ya Cinta Dalam Hati. Setiap aku menyukai seorang pria, aku menyimpannya rapat-rapat, bahkan jarang kuceritakan kepada siapapuun. Di depan aku terlihat biasa-biasa saja seperti cuek kepada dia yang kusukai. Namun, di belakangnya aku bisa stalking kegiatan hariannya melalui akun sosmed-nya dari Facebook,blog,Twitter, dan lain-lain.
Sayangnya, ketidakberanianku untuk mengungkapkan perasaan terlebih dahulu membuahkan akibat yang terus berulang. Setiap orang yang ku kagumi secara rahasia, selalu meninggalkanku dan menikah dengan wanita lain. Hal tersebut berulang terjadi sampai beberapa kali. Hingga suatu masa aku merasa ini harus menjadi yang terakhir kalinya aku terjebak dalam virus Cidaha.
Kurang lebih dua tahun aku mengaguminya, kekagumanku kali ini rasanya berlebihan. selain stalking akun sosmed-nya, aku juga sampai membuat catatan harian tentangnya. Catatan digital seperti buku harian di laptopku. Setiap hari aku menulis tentangnya dan tentangku, harapan-harapanku bersamanya, impianku bersamanya dan lainnya. Tanpa ia ketahui. Perasaan itu aku simpan rapi, hanya salah seorang sahabatku yang mengetahuinya.
Hingga suatu hari aku mendengar kabar bahwa dia akan menikah! Kaget bercampur sedih aku rasakan. Kali ini aku putuskan untuk memberanikan diri mengungkapkan persaanku kepadanya. Kemudian ia hanya menanggapi, "Kamu ke mana saja selama ini, saat aku mengharapkanmu, kamu ke mana?"
Ya! salahku sendiri yang terlalu egois di saat sebenarnya sinyal-sinyal cinta darinya mulai aku dapatkan beberapa waktu sebelumnya.
Aku kalut, sakit hatiku sudah memuncak merasakan kegagalan perasaanku lagi. Kuputuskan memberi file catatan harian itu kepadanya. Terserah apa yang mau dipikirkannya, namun aku ingin dia juga tahu perasaanku kepadanya. Meski kuakui dalam hati bahwa saat itu ada harapan bahwa dia akan berpaling kepadaku, takdir sudah berbicara, ini sudah menjadi keputusan Allah. Dia tetap menikah dengan orang lain.
Aku sadar bahwa ada hal yang harus kubereskan, yaitu diriku sendiri. Aku harus berdamai dengan diriku sendiri, yang ternyata belum memaafkan kesalahannya yang terlalu memforsir diri mencinta pada tempat yang tak seharusnya. Sekarang ini biarlah aku mendekat kepada-Nya untuk dipantaskan bertemu dengan ia yang ditakdirkan untukku, dengan cara-cara yang lebih baik. Aamiin
*****
Memaafkan kesalahan orang lain terhadap diri kita itu jauh lebih mudah dibandingkan dengan memaafkan kesalahan diri sendiri terhadap diri kita. Terjebak Cidaha, secara tidak langsung ternyata membuat diri kita merasa bersalah. Merasa bersalah bukan terhadap orang lain, tapi pada diri sendiri.
"Kenapa harus merasakan mencintai sebuah kesia-siaan? Kenapa harus rela buang-buang waktu untuk sebuah ketidakjelasan? Kenapa harus mau tersiksa dengan perasaan yang tidak seharusnya?"
Terlebih memohon ampunan kepada-Nya, karena saat terjebak kondisi Cidaha, boleh jadi kita telah menduakan bahkan me-multiple-kan cinta-Nya yang membuat Allah murka. Mari, jadikan setiap penyesalan diri sebagai hikmah yang membawa kita pada kesyukuran.
Prinsip tidak mau pacaran yang kuanut kukira tadinya sudah cukup. Namun ternyata prinspi itu mengantarkanku untuk terjebak dalam situasi "Cidaha", ya Cinta Dalam Hati. Setiap aku menyukai seorang pria, aku menyimpannya rapat-rapat, bahkan jarang kuceritakan kepada siapapuun. Di depan aku terlihat biasa-biasa saja seperti cuek kepada dia yang kusukai. Namun, di belakangnya aku bisa stalking kegiatan hariannya melalui akun sosmed-nya dari Facebook,blog,Twitter, dan lain-lain.
Sayangnya, ketidakberanianku untuk mengungkapkan perasaan terlebih dahulu membuahkan akibat yang terus berulang. Setiap orang yang ku kagumi secara rahasia, selalu meninggalkanku dan menikah dengan wanita lain. Hal tersebut berulang terjadi sampai beberapa kali. Hingga suatu masa aku merasa ini harus menjadi yang terakhir kalinya aku terjebak dalam virus Cidaha.
Kurang lebih dua tahun aku mengaguminya, kekagumanku kali ini rasanya berlebihan. selain stalking akun sosmed-nya, aku juga sampai membuat catatan harian tentangnya. Catatan digital seperti buku harian di laptopku. Setiap hari aku menulis tentangnya dan tentangku, harapan-harapanku bersamanya, impianku bersamanya dan lainnya. Tanpa ia ketahui. Perasaan itu aku simpan rapi, hanya salah seorang sahabatku yang mengetahuinya.
Hingga suatu hari aku mendengar kabar bahwa dia akan menikah! Kaget bercampur sedih aku rasakan. Kali ini aku putuskan untuk memberanikan diri mengungkapkan persaanku kepadanya. Kemudian ia hanya menanggapi, "Kamu ke mana saja selama ini, saat aku mengharapkanmu, kamu ke mana?"
Ya! salahku sendiri yang terlalu egois di saat sebenarnya sinyal-sinyal cinta darinya mulai aku dapatkan beberapa waktu sebelumnya.
Aku kalut, sakit hatiku sudah memuncak merasakan kegagalan perasaanku lagi. Kuputuskan memberi file catatan harian itu kepadanya. Terserah apa yang mau dipikirkannya, namun aku ingin dia juga tahu perasaanku kepadanya. Meski kuakui dalam hati bahwa saat itu ada harapan bahwa dia akan berpaling kepadaku, takdir sudah berbicara, ini sudah menjadi keputusan Allah. Dia tetap menikah dengan orang lain.
Aku sadar bahwa ada hal yang harus kubereskan, yaitu diriku sendiri. Aku harus berdamai dengan diriku sendiri, yang ternyata belum memaafkan kesalahannya yang terlalu memforsir diri mencinta pada tempat yang tak seharusnya. Sekarang ini biarlah aku mendekat kepada-Nya untuk dipantaskan bertemu dengan ia yang ditakdirkan untukku, dengan cara-cara yang lebih baik. Aamiin
*****
Memaafkan kesalahan orang lain terhadap diri kita itu jauh lebih mudah dibandingkan dengan memaafkan kesalahan diri sendiri terhadap diri kita. Terjebak Cidaha, secara tidak langsung ternyata membuat diri kita merasa bersalah. Merasa bersalah bukan terhadap orang lain, tapi pada diri sendiri.
"Kenapa harus merasakan mencintai sebuah kesia-siaan? Kenapa harus rela buang-buang waktu untuk sebuah ketidakjelasan? Kenapa harus mau tersiksa dengan perasaan yang tidak seharusnya?"
Terlebih memohon ampunan kepada-Nya, karena saat terjebak kondisi Cidaha, boleh jadi kita telah menduakan bahkan me-multiple-kan cinta-Nya yang membuat Allah murka. Mari, jadikan setiap penyesalan diri sebagai hikmah yang membawa kita pada kesyukuran.
Monday, June 23, 2014
Allah, Cinta, dan Harapan
Aku terbuai dengan permainan-Nya, menikmati tiap langkah aturan
bermain. Permainan-Nya begitu menjanjikan tidak seperti bermain dadu,
mengocok dan melempar. Dari setiap permainan yang ku jalani selalu
ada kepastian, ya tentu bukan keragu-raguan. Rasanya ingin sekali terus
bermain dan bermain sampai larut dalam keindahan ciptaan-Nya. Kerana sampai
ketika aku larutpun masih akan ada harapan, harapan untuk terbangun dan berdiri
menegakkan cinta-Nya.
Sempat tersentak malu ketika ku baca firman-Nya, lagi-lagi sebuah
peringatan nyata dan bukan untuk pertama kalinya Allah membelaiku dengan
tangan-Nya yang Maha Lembut. Ku baca perlahan, ku renungkan, dan hatiku benar
benar terkoyak,
"Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa, kelak akan Aku
perlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Ku. Maka janganlah kamu minta
kepada-Ku mendatangkannya dengan segera" (Al Anbiya':37)
Allah hanya ingin aku bersabar...
Dalam permainan-Nya, Allah tidak akan melempar dadu untuk
menentukan yang terbaik untuk hamba-Nya. Dia pun tak pernah lengah memberikan
cinta dan kasihNya. Rasanya aku yang mulai mejauh dari-Nya, hingga benteng
keimanan hampir runtuh karena tipu daya setan. Kini aku berada dalam
kepayahan,tertatih menggapai harapan. Bagaimana mungkin terjadi hati ini terus
menjerit tak tertahan, sempat menggoresan asaku selama ini. Ingin sekali
mengadu pada langit, memohon pada bintang agar mereka sampaikan jeritan ini.
Allah, aku iri pada mereka yang lebih dahulu menginjakkan kaki di
belahan bumi-Mu yang lain, aku iri kepada mereka yang lebih dahulu mengucapkan
kalimatullah di bawah senja negeri peri, aku iri, dan sampai kapanpun hati ini
tetap iri. Bagaimana mungkin aku meminta-Mu untuk mempercepat langkahku berdiri
di sana, sungguh aku malu. Tidakkah aku berpikir bahwa firman-Mu memintaku
untuk bersabar menunggu.
Allah, ketika Kau memperhatikanku, sejenak aku berpikir
harus memulai dari mana? Engkau tahu pekat melekat asa dalam dada untuk
pergi ke sana, menikmati senja di belahan bumi yang berbeda. Aku yakin tak
pernah bosan, aku harap juga kau tak cemburu tat kala ku katakan dengan yakin
aku ingin sekali ke sana. bukan tempat dimana peradaban islam dibangun, bukan pula
tempat dimana islam dijunjung tinggi. Hanya sebuah negeri yang menyimpan sejuta
mimpi, menimba ilmu pendidikan lalu menyebarkannya pada negeri sendiri.
Harapan dan cinta akan selalu tumbuh di bawah payung yang sama.
Biarkan pelangi yang memberikan keindahan bagi tiap mata memandang.
Sungguh, tiap kali aku berpikir tentang negeri itu, , radarku
mengingatkanku padanya, dia entah siapa dia. Akupun tak tau dan tak
mengerti mengapa dia dan seperti apa sosoknya. Biarkan dia akan terus menjadi
misteri.
Jerman, bukan sebuah negeri dimana peradaban islam dibangun, bukan
pula sebuah negeri dimana islam dijunjung tinggi. Hanya sebuah negeri
dongeng yang terus diteriakkan pada nurani .Kau akan terus menyimpan
sejuta impian. Bagaimana bisa kau membuatku menunggu?
Sayangnya aku tidak bodoh. Penantianku akan ku manfaatkan untuk
terus berusaha, berkarya dan berdoa.Tuhan ku juga tidak pernah tidur, jadi
membuatku berpijak di keindahan bumimu tentulah mudah bagi-Nya.
Allah hanya ingin aku bersabar,sabar dalam merajut cinta dan
harapan dengan keindahan pena-Nya.
Keelokan Muslimah Bagai Mawar Berduri
Muslimah seperti mawar yang berduri seorang wanita sempurna seperti setangkai mawar berduri. Dan
kesempurnaan mawar adalah padadurinya. Namun terkadang orang menganggap duri pada mawar menganggu, merusak, bahkan menghalangi keindahan kelopak mawar. Padahal justru dengan itulah setangkai mawar menjadi sempurna, terjaga, terlindungi, tak di petik sembarang orang.
Mawar adalah wanita.sedangkan duri pada mawar adalah aturan yang melekat dari Allah bagi seorang wanita. Banyak orang mengatakan aturan yang Allah buat untuk wanita mengekang, sulit jodoh, hingga sulit untuk mendapatkan pekerjaan. padahal seperti duri pada mawar, justru aturan itu yang melindungi, menjaga dan membuat seorang wanita mulia.seperti duri yang menjadi penyempurna mawar. Maka aturan Allah yang menjadi penyempurna wanita. Dan jika mawar berduri adalah mawar yang sempurna, pastinya wanita dengan aturan yang melekat dari Tuhannya pula wanita yang sempurna.
Seorang wanita sempurna seperti mawar ditepi jurang, bukan mawar di tengah taman. jika mawar di tengah taman cenderung semua tangan bisa memetiknya, dari orang biasa hingga orang 'kurang ajar' yang nekad memetik walaupun ada tulisan "dilarang memetik bunga". walau ada larangannya tetap berani memetik. toh di bawah tulisan larangan itu hanya tertulis ancaman "denda sekian
sekian puluh ribu atau kurungan sekian bulan". tapi jika ada di tepi jurang tentu tak semua tangan berani menyentuhnya.
Maka wanita tumbuhlah di tepi jurang. Hingga tak sembarang tangan lelaki bisa menyentuhmu. Hingga jika pun suatu saat ada seorang lelaki memetikmu. pastilah lelaki yang paling berani berkorban untukmu. bukan sembarang tangan, bukan sembarang orang, bukan sembarang
lelaki. karena wanita bukanlah barang murah yang boleh di sentuh seenaknya. bukan pula barang hiasan yang bisa di petik dengan ancaman kecil.
lelaki. karena wanita bukanlah barang murah yang boleh di sentuh seenaknya. bukan pula barang hiasan yang bisa di petik dengan ancaman kecil.
Monday, March 31, 2014
Cermin Kualitas Pendidikan Bangsa
Berbicara mengenai
pendidikan di Indonesia tentunya pendidikan bangsa ini masih dalam tahap proses
pembenahan. Kondisi pendidikan Indonesia masih jauh posisinya di dunia. Menurut
data dari indeks pembangunan, pendidikan di Indonesia berada dalam posisi ke 69
dari 127 negara di dunia. Data ini menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia
masih sulit untuk menembus peringkat terbaik.
Belajar dari sang
perimadona pendidikan, Finlandia, negara yang menjadi guru terbaik bagi pendidikan
di dunia. Indonesia masih harus belajar dari negara pendidik ini, mulai dari
pembenahan kurikulum, sistem, bahkan dari tujuan pendidikan itu sendiri. Sumber
daya manusia yang terampil dan memang ahli di bidangnya sudah menjadi aset
besar bagi Finlandia. Bagaimana tidak, profesi guru di negara pendidik itu
merupakan profesi yang sangat mulia dan kompetitif sekali untuk mendapatkannya.
Bercermin dari mereka,
bangsa ini masih jauh terbelakang dari sisi sumber daya manusianya. Untuk
menjadi seorang pendidik di Indonesia seolah menjadi pilihan terakhir daripada
mereka tidak mendapat kerja. Ketika Finlandia
mewajibkan tenaga pendidik untuk tingkat Sekolah Dasar adalah lulusan
S2, namun di Indonesia ‘asal bisa’ mengajar maka dia diperbolehkan. Akhirnya
banyak guru-guru ‘cabutan’ yang dipaksa harus mengajar, bisa karena teknis
bukan karena hati nurani. Apabila pendidik mengajar ala kadarnya tentulah siswa
yang dididik juga akan ala kadarnya.
Sistem pendidikan di
Indonesia terlihat belum ada kemajuan dari tahun ke tahun, pemerintah sibuk melakukan
perbaikan kurikulum tetapi lupa dengan sistem pelaksanannya. Celakanya, para
siswa di negara ini tidak sadar telah dituntut untuk selalu berorientasi pada
hasil bukan pada proses untuk mendapatkannya. Siapa yang tidak mau lulus dengan
nilai Ujian Nasional yang baik, siapa yang tidak mau naik kelas dengan
peringkat yang baik. Inilah kacamata hitam pendidikan di negeri ini, Ranking
dan ujian yang diterapkan untuk mengukur seberapa pintar mereka ternyata suatu
momok yang mematikan secara perlahan. Para siswa dituntut untuk berlomba
mendapatkan hasil terbaik agar bisa naik kelas dan lulus, menghalalkan segala
cara untuk mendapatkannya. Sekolah tiga atau enam tahun namun hanya ditentukan
oleh beberapa hari. Bukankah itu tidak adil ?
Namun sistem ini sudah membudaya dan menjadi darah dalam pendidikan di
negeri ini.
Sederet fakta logis
yang telah ditemukan tentang kemudaratan sistem perankingan atas dasar nilai
rata-rata. Rupanya dengan adanya sistem perankingan atas dasar nilai rata-rata
akan menuntut siswa memperjuangkan hasil yang baik dengan mengesampingkan
proses. Mereka tidak segan-segan untuk berbuat curang. Bagi yang mendapatkan
ranking terbaik biasanya akan mendapat perlakuan istimewa dari gurunya. Bukan
hanya itu, yang mendapat ranking terendah juga akan mendapat perlakuan istimewa
biasanya berupa sindiran dari sang guru sehingga timbul perbandingan.
Membandingkan kemampuan
yang berbeda, lalu salah satunya menjadi parameter atau tolak ukur bagi yang
lain adalah tindakan tidak adil. Apalagi bila nilai seorang anak ditentukan
oleh nilai temanya, di samping tidak adil, cara demikian juga tidak valid.
Kekeliruan logika yang selama ini berjalan, apabila seorang anak perlu remedial karena ia belum tuntas mencapai KKM,
maka setelah mengikuti kegiatan pembelajaran remedial, nilai perolehannya
maksimum hanya pada KKM saja. Sangat ironis sistem pendidikan di negara ini,
walaupun secara kompetensi sangat mungkin ia mencapai tingkatan yang lebih
tinggi dari temannya yang lebih dulu tuntas, namun ketuntasannya tidak diakui
hanya karena dia ikut remedial. Untuk itu anak remedial tidak boleh lebih baik
dari anak yang lebih dulu tuntas. Dunia pendidikan kita saat ini ingin
mengkondisikan sekali anak jatuh, harus jatuh selamanya, kalau ia berhasil
bangkit, ia dicurigai berbuat curang atau menyontek. Kita harus menghentikannya.
Keriteria
Ketuntasan Minimal (KKM) yang diterapkan di Indonesia dijadikan sebagai tolak
ukur kenaikan kelas sehingga menyebabkan siswa yang gagal tes harus
mengikuti tes remidial dan masih ada yang tinggal kelas. Sebaliknya, Finlandia
menganut kebijakan automatic promotion, naik kelas otomatis. Guru
siap membantu siswa yang tertinggal sehingga semua naik kelas. Jika Indonesia
menerapkan sistem yang sama seperti di Finlandia, maka ada kemungkinan besar
mutu pendidikan kita akan lebih baik. Realitanya guru-guru di Indonesia tidak
sabar menemani siswa yang tertinggal sampai ia naik kelas. Tak sedikit guru
yang meninggikan nilai siswanya agar bisa naik kelas, berbekal belas kasihan
mereka melakukanya. Mereka tidak sadar bahwa tindakan mereka akan membunuh
fungsi pendidikan di Indonesia.
Majunya pendidikan
suatu bangsa tidak terlepas dari peran aktif pemerintahnya. Peran pemerintah
untuk pendidikan di Indonesia sudah tersurat dalam Undang Undang kependidikan.
Setiap warga negara kebangsaan Indonesia wajib menerima pendidikan dan
pemerintah harus menunjang pembiayaan pendidikan tersebut. Pemerintah secara perlahan
sudah menata pendidikan dengan cara menata profesionalisme guru, memperbaiki
kuliatas tenaga pendidik, gaji pendidik dan perbaikan infrastruktur secara
terus menerus. Akan tetapi upaya ini belum diimplementasikan secara merata.
Masih banyak daerah-daerah terpencil, terluar dan tertinggal yang kurang cukup
asupan pendidikannya. Tidak hanya itu, pendistribusian dana BOS dan gaji guru
masih sangat dikesampingkan untuk daerah 3T tersebut.
Pemerintah sudah cukup
tanggap mengatasi keterbelakangan pendidikan di daerah 3T (terpencil,
terluar,tertinggal). Mereka mengadakan program SM3T yaitu Sarjana Mendidik di
daerah terpencil, terluar dan tertinggal yang diperuntukkan untuk sarjana S1
yang ingin menguji nyali seberapa profesional mereka dalam mendidik. Program
ini sangat baik sebagai upaya untuk memerangi kebodohan dan melakukan
pemerataan pendidikan di Indonesia.Di sisi lain bantuan beasiswa yang diberikan
kepada masyarakat yang kurang mampu rupanya terkadang tidak tepat sasaran.
Kasus ini umumnya terjadi di ibukota, penyeleksian terhadap penerima beasiswa
kurang ketat penerapannya. Sehingga dengan mudah masyarakat memalsukan
surat-surat pengajuan. Munculah kesenjangan terhadap upaya pemerintah ini. Jadi
pemerintah harus melakukan pembenahan realistis terhadap kualitas pendidikan di
Indonesia dengan memperhatikan segala sudut untuk menyalakan api intelektual
lewat pendidikan.
Kuliatas pendidikan
semakin tahun semakin memprihatinkan. Daya juang siswa dari tahun ke tahun
ternyata semakin mengalami penurunan. Diberlakukannya sekolah gratis ternyata
berdampak negatif pada beberapa siswa, semakin banyak siswa yang menomorduakan
sekolahnya. Seharusnya kebijakan pendidikan dapat menciptakan manusia yang bisa melakukan hal baru, tidak sekadar
mengulang apa yang telah dilakukan generasi sebelumnya. Jika semakin banyak
permasalahan seharusnya kita bisa menengok dengan cepat ke arah kurikulum
pendidikan negari ini.
Sistem pendidikan atau
kurikulum bisa menjadi titik ledakan keberhasilan pendidikan di suatu negara.
Negara yang baik pendidikannya, akan baik juga kurikulum yang diterapkannya.
Bagaimana dengan nasib kurikulum di sekolah kita? Yang jelas, setiap kali ada
perubahan kurikulum, setiap itu pula masyarakat resah, guru resah, murid resah.
Hanya ada satu orang yang tidak resah, yaaitu orang paham sejatinya tentang
kurikulum. Ini pertanda ada yang salah dalam pemahaman kita tentang apa
sejatinya kurikulum itu. Kurikulum yang baik adalah yang mampu merespon
perubahan kehidupan yang berlangsung secara terus-menerus. Sepanjang sejarah
perubahan kurikulum di negeri ini selalu dijadikan kambing hitam. Ketika
kurikulum tidak mampu meningkatkan kualitas pendidikan, kurikulum dituding
menjadi penyebabnya. Sementara manusianya tidak mau berbenah diri.
Sistem yang ada
,melahirkan hasil yang ada. Jika diinginkan hasil yang lain, sistem harus
diubah. Sebagian guru tidak mampu keluar dari ‘budaya petunjuk’ hingga
kreativitasnya terpasung. Keadaannya lebih menonjolkan keseragaman proses dari
metode pembelajaran. Proses yang demikian mengakibatkan pendidikan berjalan
secara mekanis dan tercabut dari budaya yang menjadi akarnya. Ini membuat
pendidikan seakan terpisah dari dunia kehidupan yang nyata. Pendidikan seolah hanya rutinitas
pengisi waktu menuju baya. Belum
dirasakan apa manfaat sesungguhnya. Apa yang diperoleh melalui pengalaman
belajar belum bisa menjadi arahan yang jelas ke mana mereka akan melangkah.
Ironis !
Sistem pendidikan di
Indonesia bisa dengan cepat meningkatkan kualitas pendidikan apabila berjalan
secara efektif dengan membebaskan pengelolaan pendidikan dari tekanan
birokratis, hindarkan berbagai bentuk keseragaman, dan bebaskan setiap
keputusan dari ambisi sekelompok orang tertentu. Pendidikan milik semua, dan
semua orang berhak dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan. Pendidikan yang
humanis mungkin tinggal impian dan harapan jika sistem yang berlaku saat ini
tidak diubah, karena “sistem yang ada melahirkan hasil yang ada. Jika
diinginkan hasil yang lain, sistem harus diubah”. Peningkatkan kualitas
pendidikan akan semakin nyata.
Sunday, March 2, 2014
Teman,
berjalanlah walau tanpa aku..
“Karena potensimu dibutuhkan
dibanyak tempat, maka bersiaplah ketika ketidakhadiranmu dipertanyakan”
Sekejap aku berfikir bahwa aku lelah menjadi orang yang mereka butuhkan, aku lelah aku merengek, mengeluh dengan segala
kelelahanku, karena saat itu aku merasa lelah ketika potensiku dibutuhkan di
banyak tempat, amanah terpikul di pundakku, bukan hanya satu, bukan..
Ku luapkan kelelehanku saat aku pulang dari kegiatan rutin
di minggu sore, yang bisa dibilang karena aku juga baru bisa menyempatkan diri
hadir di tengah mereka. Sebuah rumah belajar yang terbentuk dari komitmen kita,
komitmen karena akar kebersamaan yang kami jalin selama 3 tahun bersama.Namun nyatanya
makin kesini mereka hampir tidak terlihat, begitu banyak yang tidak terlihat,
termasuk mungkin diriku.
Teman, tulisan ini ku tulis untuk kalian dengan rasa cinta
penuh penyesalan.. bukan aku tak peduli dengan komitmenku, bukan juga tak mau
menengok kearah kalian sedikitpun. Hanya saja aku tak mampu mengungkapkan lebih
apa alasanku untuk tidak hadir di sana.
Teman, ingatkah kau tentang cerita kita tiga tahun yang
lalu, mengukir cerita indah bersama. Buatku itu
bukan hal yang mudah. Karena aku jua berjuang mewujudkannya. Dua tahun
menjabat sebagai ketua kelas tentunya tidak mudah teman. Sadarkah kau teman,
aku hampir menyerah saat itu, aku tak kuat, aku tak kuasa menanggapi ulah
kalian, selama dua tahun itu. Semua berpuncak di awal tahun saat kita
berada di kelas sepuluh. Kondisi kelas
itu berpecah belah, banyak lingkaran-lingkaran yang merusak kesatuan kita. Tak
sadarkah kau teman, aku hampir menyerah dengan keadaan, aku buntu! Tidak
menemukan cara bagaimana menyatukan kalian.
Apakah hanya menanggapi ulahmu? Tidak . batinku, ragaku
harus mampu menampung setiap kali guru guru naik pitam di kelas kita. Dua tahun
itu bukan waktu yang sebentar, banyak air mata yang aku teteskan selama itu. Andaikan
kau tau begitu sakit rasanya, saat kau tak mau mempedulikanku. Pikiranku saat
itu, ketika aku melepaskan semua, maka aku yang kalah. Aku bertekad, suatu saat
kita pasti bersama menorehkan prestasi bersama. Nyatanya di akhir tahun
kelulusan kita berhasil kan membuktikan kepada mereka, bahwa kita adalah
pasukan yang kuat. Kita bahkan mampu membuat mata yang memandang iri karena
kekompakan kita.
Tapi mengapa sekarang seolah kau melupakan semuanya? Jika dulu
aku mampu totalitas untuk kelas, untuk kelas kita. Maka sekarang izinkan aku
beralih ke yang lain, karena di bumi pijakan yang baru aku juga memikul amanah.
Aku percaya kepada kalian bahwa ini adalah masa untuk kalian. Bukankah setiap
orang itu ada masanya dan setiap masa ada orangnya?
Teman, inilah masamu untuk berkarya, masamu untuk merasakan
bagaimana rasanya perjuanganku dulu. Jangan kau remehkan sekecil apapun
kebaikan yang mereka berikan. Karena aku yakin kau mampu memikul amanah ini. Jangan
kau permasalahkan mengapa aku tidak pernah hadir, jangan juga kau cemburu
kepada mereka yang waktunya selalu ku penuhi. Karena mereka, amanah amanahku
itu, mungkin amanah ku ini tidak akan berjalan jika aku tidak hadir. Tapi tidak
untuk kau, kau akan masih terus berjalan dengan teman temanmu, melaksanakan
rutinitas di minggu sore.
Mengapa ku katakan amanahku di tempat lain lebih penting? Ketika
kau hanya berhadapan dengan anak anak yang mungkin bisa belajar tanpa kita,
anak anak yang menjadikan kita bukan pada prioritas awal. Tapi tidak untukku,
aku berhadapan dengan mereka yang ingin menghancurkan generasi-generasi pemuda
islam sekolah kita. Kader sekolah kita sedikit yang sadar untuk menjaga mereka.
Maka aku putuskan aku akan kembali kepada mereka, aku putuskan merekalah
prioritasku.
Teman, jika hatimu belum luluh dengan pengakuanku, bagaimana
jika kita bertukar posisi? Biarkan aku yang mengurus rapih kegiatan kelas kita dan
kau yang mengurusi semua amanahku. Bagaimana jika kita bertukar posisi?
Jangan selalu menuntut kesempurnaan, dan ketika ada teman
teman kita yang hadir , bersyukurlah, jangan kau terus menyindir mereka. Bukankah
itu namanya menuntut kesempurnaan? Berjalanlah seberapapun banyaknya, jangan
kau selalu permasalahi kuantitas, tapi pikirkan kualitas untuk kegiatan itu.
Teman, jangan kau selalu menuntut kesempurnaan,
berjalanlah.. karena ketika kau terus menuntut kesempurnaan kau tidak akan
mendapatkan apa-apa. Hanya berujung pada ketiadaan yang sia-sia.
Teman, jangan kau selalu menanti kehadiranku untuk bergerak,
jangan juga kau permasalahkan mereka yang hatinya belum terpaut di kegiatan
ini, tapi cukup kau fokuskan dirimu dengan mereka yang bisa hadir di setiap
saat. Berilah penghargaan buat mereka, agar pundak mereka lebih kuat memikul
semuanya.
Teman, setiap orang punya masanya, dan setiap masa ada
orangnya. Ini adalah masamu, totalitaslah dalam memikul amanah. Ikhlaskan ketiadaanku
di sana karena tempat lain masih membutuhkanku. Aku tidak ingin hanya air mata
di akhir.
Teman, berjalanlah, berubahlah..
Izinkan aku memutar haluan, izinkan aku berfokus di pijakan
lain
Kerana mereka yang lebih membutuhkanku..
Teman,, berjalanlah.. walau tanpa aku..
Tuesday, February 25, 2014
Dan Akhirnya Aku Memilih KSEI
~Dilema dengan dua Badan Semi Otonom~
Organisasi dulu, organisasi lagi, dan organisasi terus. Kata
itu sudah mendarah daging di jiwaku, dimanapun aku berpijak di sana pun ada
amanah yang ku bawa. Tentunya tidak heran karena organisasi.
Berawal dari sebuah pesan berantai yang terus memenuhi kotak
pesanku, ku buka pesan itu satu persatu, ternyataaa ada sebuah organisasi yang
sedang berburu mencari punggawa punggawa baru, ksatria sang penerus tongkat
estafet mereka. Di atas dan di bawah sisi pesan tercantum rapih nama KSEI
(Kelompok Studi Ekonomi Islam), dan tak luput terselip pula pesan penyemangat “Selamat
datang wahai insane Rabbani”. Lantas apa yang ku respon, aku hanya menyimak
namun tak menanggapi, mulanya tak sedikit pun respon dari diriku. Bukan tak
peduli, bukan juga tak berminat. Sempat aku berpikir apakah iya akan ada jalan
bagiku memilih KSEI, apakah iya akhirnya Allah akan menempatkan aku di KSEI.
Mungkin bagi mereka yang sering hadir di acara KSEI, sering menyimak setia saat
para petinggi organisasi itu mengelurkan petuahnya, itu hal biasa. Kerana memang
telah tertanam bibit dalam diri mereka yang memang mereka berniat untuk menaburkannya di badan semi otonom tersebut.
Ketahuilah, tidak untuk aku ! hal itu yang membuat aku
berpikir keras untuk mencoba melangkah ke organisasi itu, tidak berpegang bekal
apapun aku memberanikan diri melangkah ke KSEI. Mengapa tidak berbekal? Lantas aku
kemana saja disaat KSEI sibuk mencerdaskan para calon kadernya?. Saat begitu
banyak acara KSEI terjadwal rapih aku selalu berhalangan untuk hadir, rupanya
memang Allah belum menakdirkannya untukku. Setiap ada acara KSEI saat itu pula
aku memikul amanah di tempat lain. Hati ini iri kepada mereka yang dengan mudah
menyaksikan acara tersebut .
Seiring berjalannya waktu tak ubahnya aku yang selalu sibuk
dengan amanah-amanahku, salah satunya kesibukanku di sebuah forum untuk sahabat
muslim se-fakultas yang aku sendiri menjadi kepalanya. Siapa yang tidak tahu
bahwa forum itu merupakan anak dari lembaga dakwah fakultas . Hari hari ku
jalani dengan forum itu, sampai aku menemukan titik loyal hingga akhirnya hati
ini mulai terasa terikat dengan keramah tamahan perilaku senior-senior yang
berada di lembaga dakwah fakultas. Aku perlahan-lahan mulai masuk ke dunianya
dan dijamu dengan begitu hasan. Pikiranku mulai bercabang, dilema dengan dua
pilihan organisasi, apakah Allah mengizinkan aku untuk tidak melangkahkan kakiku
ke lembaga dakwah fakultas tetapi memutar arah ke KSEI.
Hari demi hari pesan berantai itupun selalu datang, ajakan
untuk bergabung di Kelompok Studi Ekonomi Islam. Aku tak hanya diam, semakin
banyak pesan rupanya semakin membuatku dilema. Buat mereka mungkin aku
berlebihan, tetapi buatku ini adalah pilihan yang sulit. Kesalahan aku dalam
mengambil keputusan akan berujung pada penyesalan yang dalam. Malam itu sontak
aku mengeluarkan air mata, karena ku tak mampu lagi untuk memilih dari dua
pilihan itu. Aku sadar bahwa aku tidak sendiri. Malam itu juga aku memberanikan
diri dengan segala kepasrahanku bersimpuh di atas sajadah, menunaikan dua
rakaat untuk meminta pilihan mana yang benar-benar terbaik untuk aku dan
agamaku. I’m give up, ku serahkan semua pada tanganNya.
Tepat seminggu setelah aku memohon jawaban, berbagai
pintu-pintu Allah terbuka seraya memberi kemudahan, mulai dari dipertemukannya
aku oleh senior di sekolah yaitu Ka Danis, yang ternyata dia seorang Kepala
Divisi HRD di KSEI, divisi yang memang aku ingin pilih. Tidak hanya itu, Allah
pertemukan aku dengan para pejuang KSEI yang ternyata memang melekat di
lingkunganku. Bagiku ini bukan sebuah kebetulan, melainkan ini sebuah jawaban
dari Allah atas doaku.
Sontak terkejut, ketika semua temanku yang berada dalam
barisan forum sahabat muslim fakultas menanyakan alasan tekadku berpaling ke
KSEI. Yang ada dalam pikiran mereka mengapa aku seorang mas’ulah Salim tidak
melangkahkan kakinya ke lembaga dakwah fakultas, mengapa aku berani untuk
beralih. Aku hanya bisa menjawab ini adalah pilihan, terkadang kita memang
harus menjadi batu bata yang siap mengisi kekosongan ruang untuk memperkokoh
sebuah bangunan. Aku hanya bisa berpesan kepada mereka dimanapun kita harus
memperjuangkan yang terbaik. Aku tidak marah, aku tidak menyesal, tapi aku
bersyukur begitu indah jalan Allah untuk hidupku, selalu mempertemukanku dengan
orang-orang hebat.
Jangan tanya apa motivasiku ! motivasiku murni karena jawaban
Allah, murni karena niatku, murni karena amanah yang akan ku pikul. Prinsip dalam
hidupku, ketika aku harus berkontribusi untuk sebuah organisasi, organisasi itu
adalah organisasi yang tidak hanya mengajarkan aku how to be organisatoris,
tapi ia harus mampu memberikan aku ilmu.
Inilah KSEI, aku temukan KSEI dibalik sujud panjangku
Semoga ini awal yang baik, awal untuk aku menorehkan prestasi dimanapun
aku berada
Sambut generasi hangat Rabbanimu wahai para pejuang KSEI
Bismillahirrahmanirrohiim, nawaitu lillahi ta’ala
Dan Akhirnya Aku Memilih KSEI ..
Sunday, February 23, 2014
I Remember Your Smile :)
Where there’s a right, there is no wrong.
I always thought we were so strong
But our time just flew right by
There wasn’t a chance to say
goodbye
I’m so confused, I feel all alone
Deep in my heart I know Allah has
called you home…home
But yet, your smile, still lingers in
my mind
And yet, it’s so hard, I just break
down and cry
I remember your eyes found a way to
melt my heart
Most of all I remember, I remember
your smile
Most of all, I remember, I remember
your smile
Sometimes I lie awake at night
The pain in my heart I just can’t
fight
Why did you have to go away?
Yet I know none of us can stay
You’ll always be, so special to me
In this world you’ll always live as a
memory
Where there’s a right, there is no wrong.
I always thought we were so strong
But our time just flew right by
There wasn’t a chance to say
goodbye
I’m so confused, I feel all alone
Deep in my heart I know Allah has
called you home…home
But yet, your smile, still lingers in
my mind
And yet, it’s so hard, I just break
down and cry
I remember your eyes found a way to
melt my heart
Most of all I remember, I remember
your smile
Most of all, I remember, I remember
your smile
Sometimes I lie awake at night
The pain in my heart I just can’t
fight
Why did you have to go away?
Yet I know none of us can stay
You’ll always be, so special to me
In this world you’ll always live as a
memory
Subscribe to:
Posts (Atom)






