Teman,
berjalanlah walau tanpa aku..
“Karena potensimu dibutuhkan
dibanyak tempat, maka bersiaplah ketika ketidakhadiranmu dipertanyakan”
Sekejap aku berfikir bahwa aku lelah menjadi orang yang mereka butuhkan, aku lelah aku merengek, mengeluh dengan segala
kelelahanku, karena saat itu aku merasa lelah ketika potensiku dibutuhkan di
banyak tempat, amanah terpikul di pundakku, bukan hanya satu, bukan..
Ku luapkan kelelehanku saat aku pulang dari kegiatan rutin
di minggu sore, yang bisa dibilang karena aku juga baru bisa menyempatkan diri
hadir di tengah mereka. Sebuah rumah belajar yang terbentuk dari komitmen kita,
komitmen karena akar kebersamaan yang kami jalin selama 3 tahun bersama.Namun nyatanya
makin kesini mereka hampir tidak terlihat, begitu banyak yang tidak terlihat,
termasuk mungkin diriku.
Teman, tulisan ini ku tulis untuk kalian dengan rasa cinta
penuh penyesalan.. bukan aku tak peduli dengan komitmenku, bukan juga tak mau
menengok kearah kalian sedikitpun. Hanya saja aku tak mampu mengungkapkan lebih
apa alasanku untuk tidak hadir di sana.
Teman, ingatkah kau tentang cerita kita tiga tahun yang
lalu, mengukir cerita indah bersama. Buatku itu
bukan hal yang mudah. Karena aku jua berjuang mewujudkannya. Dua tahun
menjabat sebagai ketua kelas tentunya tidak mudah teman. Sadarkah kau teman,
aku hampir menyerah saat itu, aku tak kuat, aku tak kuasa menanggapi ulah
kalian, selama dua tahun itu. Semua berpuncak di awal tahun saat kita
berada di kelas sepuluh. Kondisi kelas
itu berpecah belah, banyak lingkaran-lingkaran yang merusak kesatuan kita. Tak
sadarkah kau teman, aku hampir menyerah dengan keadaan, aku buntu! Tidak
menemukan cara bagaimana menyatukan kalian.
Apakah hanya menanggapi ulahmu? Tidak . batinku, ragaku
harus mampu menampung setiap kali guru guru naik pitam di kelas kita. Dua tahun
itu bukan waktu yang sebentar, banyak air mata yang aku teteskan selama itu. Andaikan
kau tau begitu sakit rasanya, saat kau tak mau mempedulikanku. Pikiranku saat
itu, ketika aku melepaskan semua, maka aku yang kalah. Aku bertekad, suatu saat
kita pasti bersama menorehkan prestasi bersama. Nyatanya di akhir tahun
kelulusan kita berhasil kan membuktikan kepada mereka, bahwa kita adalah
pasukan yang kuat. Kita bahkan mampu membuat mata yang memandang iri karena
kekompakan kita.
Tapi mengapa sekarang seolah kau melupakan semuanya? Jika dulu
aku mampu totalitas untuk kelas, untuk kelas kita. Maka sekarang izinkan aku
beralih ke yang lain, karena di bumi pijakan yang baru aku juga memikul amanah.
Aku percaya kepada kalian bahwa ini adalah masa untuk kalian. Bukankah setiap
orang itu ada masanya dan setiap masa ada orangnya?
Teman, inilah masamu untuk berkarya, masamu untuk merasakan
bagaimana rasanya perjuanganku dulu. Jangan kau remehkan sekecil apapun
kebaikan yang mereka berikan. Karena aku yakin kau mampu memikul amanah ini. Jangan
kau permasalahkan mengapa aku tidak pernah hadir, jangan juga kau cemburu
kepada mereka yang waktunya selalu ku penuhi. Karena mereka, amanah amanahku
itu, mungkin amanah ku ini tidak akan berjalan jika aku tidak hadir. Tapi tidak
untuk kau, kau akan masih terus berjalan dengan teman temanmu, melaksanakan
rutinitas di minggu sore.
Mengapa ku katakan amanahku di tempat lain lebih penting? Ketika
kau hanya berhadapan dengan anak anak yang mungkin bisa belajar tanpa kita,
anak anak yang menjadikan kita bukan pada prioritas awal. Tapi tidak untukku,
aku berhadapan dengan mereka yang ingin menghancurkan generasi-generasi pemuda
islam sekolah kita. Kader sekolah kita sedikit yang sadar untuk menjaga mereka.
Maka aku putuskan aku akan kembali kepada mereka, aku putuskan merekalah
prioritasku.
Teman, jika hatimu belum luluh dengan pengakuanku, bagaimana
jika kita bertukar posisi? Biarkan aku yang mengurus rapih kegiatan kelas kita dan
kau yang mengurusi semua amanahku. Bagaimana jika kita bertukar posisi?
Jangan selalu menuntut kesempurnaan, dan ketika ada teman
teman kita yang hadir , bersyukurlah, jangan kau terus menyindir mereka. Bukankah
itu namanya menuntut kesempurnaan? Berjalanlah seberapapun banyaknya, jangan
kau selalu permasalahi kuantitas, tapi pikirkan kualitas untuk kegiatan itu.
Teman, jangan kau selalu menuntut kesempurnaan,
berjalanlah.. karena ketika kau terus menuntut kesempurnaan kau tidak akan
mendapatkan apa-apa. Hanya berujung pada ketiadaan yang sia-sia.
Teman, jangan kau selalu menanti kehadiranku untuk bergerak,
jangan juga kau permasalahkan mereka yang hatinya belum terpaut di kegiatan
ini, tapi cukup kau fokuskan dirimu dengan mereka yang bisa hadir di setiap
saat. Berilah penghargaan buat mereka, agar pundak mereka lebih kuat memikul
semuanya.
Teman, setiap orang punya masanya, dan setiap masa ada
orangnya. Ini adalah masamu, totalitaslah dalam memikul amanah. Ikhlaskan ketiadaanku
di sana karena tempat lain masih membutuhkanku. Aku tidak ingin hanya air mata
di akhir.
Teman, berjalanlah, berubahlah..
Izinkan aku memutar haluan, izinkan aku berfokus di pijakan
lain
Kerana mereka yang lebih membutuhkanku..
Teman,, berjalanlah.. walau tanpa aku..
No comments:
Post a Comment