Sunday, March 2, 2014

Teman, berjalanlah walau tanpa aku..

 “Karena potensimu dibutuhkan dibanyak tempat, maka bersiaplah ketika ketidakhadiranmu dipertanyakan” 

Sekejap aku berfikir bahwa aku lelah menjadi orang yang mereka butuhkan, aku lelah aku merengek, mengeluh dengan segala kelelahanku, karena saat itu aku merasa lelah ketika potensiku dibutuhkan di banyak tempat, amanah terpikul di pundakku, bukan hanya satu, bukan..

Ku luapkan kelelehanku saat aku pulang dari kegiatan rutin di minggu sore, yang bisa dibilang karena aku juga baru bisa menyempatkan diri hadir di tengah mereka. Sebuah rumah belajar yang terbentuk dari komitmen kita, komitmen karena akar kebersamaan yang kami jalin selama 3 tahun bersama.Namun nyatanya makin kesini mereka hampir tidak terlihat, begitu banyak yang tidak terlihat, termasuk mungkin diriku.

Teman, tulisan ini ku tulis untuk kalian dengan rasa cinta penuh penyesalan.. bukan aku tak peduli dengan komitmenku, bukan juga tak mau menengok kearah kalian sedikitpun. Hanya saja aku tak mampu mengungkapkan lebih apa alasanku untuk tidak hadir di sana.

Teman, ingatkah kau tentang cerita kita tiga tahun yang lalu, mengukir cerita indah bersama. Buatku itu  bukan hal yang mudah. Karena aku jua berjuang mewujudkannya. Dua tahun menjabat sebagai ketua kelas tentunya tidak mudah teman. Sadarkah kau teman, aku hampir menyerah saat itu, aku tak kuat, aku tak kuasa menanggapi ulah kalian, selama dua tahun itu. Semua berpuncak di awal tahun saat kita berada  di kelas sepuluh. Kondisi kelas itu berpecah belah, banyak lingkaran-lingkaran yang merusak kesatuan kita. Tak sadarkah kau teman, aku hampir menyerah dengan keadaan, aku buntu! Tidak menemukan cara bagaimana menyatukan kalian.

Apakah hanya menanggapi ulahmu? Tidak . batinku, ragaku harus mampu menampung setiap kali guru guru naik pitam di kelas kita. Dua tahun itu bukan waktu yang sebentar, banyak air mata yang aku teteskan selama itu. Andaikan kau tau begitu sakit rasanya, saat kau tak mau mempedulikanku. Pikiranku saat itu, ketika aku melepaskan semua, maka aku yang kalah. Aku bertekad, suatu saat kita pasti bersama menorehkan prestasi bersama. Nyatanya di akhir tahun kelulusan kita berhasil kan membuktikan kepada mereka, bahwa kita adalah pasukan yang kuat. Kita bahkan mampu membuat mata yang memandang iri karena kekompakan kita.

Tapi mengapa sekarang seolah kau melupakan semuanya? Jika dulu aku mampu totalitas untuk kelas, untuk kelas kita. Maka sekarang izinkan aku beralih ke yang lain, karena di bumi pijakan yang baru aku juga memikul amanah. Aku percaya kepada kalian bahwa ini adalah masa untuk kalian. Bukankah setiap orang itu ada masanya dan setiap masa ada orangnya?

Teman, inilah masamu untuk berkarya, masamu untuk merasakan bagaimana rasanya perjuanganku dulu. Jangan kau remehkan sekecil apapun kebaikan yang mereka berikan. Karena aku yakin kau mampu memikul amanah ini. Jangan kau permasalahkan mengapa aku tidak pernah hadir, jangan juga kau cemburu kepada mereka yang waktunya selalu ku penuhi. Karena mereka, amanah amanahku itu, mungkin amanah ku ini tidak akan berjalan jika aku tidak hadir. Tapi tidak untuk kau, kau akan masih terus berjalan dengan teman temanmu, melaksanakan rutinitas di minggu sore.

Mengapa ku katakan amanahku di tempat lain lebih penting? Ketika kau hanya berhadapan dengan anak anak yang mungkin bisa belajar tanpa kita, anak anak yang menjadikan kita bukan pada prioritas awal. Tapi tidak untukku, aku berhadapan dengan mereka yang ingin menghancurkan generasi-generasi pemuda islam sekolah kita. Kader sekolah kita sedikit yang sadar untuk menjaga mereka. Maka aku putuskan aku akan kembali kepada mereka, aku putuskan merekalah prioritasku.

Teman, jika hatimu belum luluh dengan pengakuanku, bagaimana jika kita bertukar posisi? Biarkan aku yang mengurus rapih kegiatan kelas kita dan kau yang mengurusi semua amanahku. Bagaimana jika kita bertukar posisi?

Jangan selalu menuntut kesempurnaan, dan ketika ada teman teman kita yang hadir , bersyukurlah, jangan kau terus menyindir mereka. Bukankah itu namanya menuntut kesempurnaan? Berjalanlah seberapapun banyaknya, jangan kau selalu permasalahi kuantitas, tapi pikirkan kualitas untuk kegiatan itu.

Teman, jangan kau selalu menuntut kesempurnaan, berjalanlah.. karena ketika kau terus menuntut kesempurnaan kau tidak akan mendapatkan apa-apa. Hanya berujung pada ketiadaan yang sia-sia.
Teman, jangan kau selalu menanti kehadiranku untuk bergerak, jangan juga kau permasalahkan mereka yang hatinya belum terpaut di kegiatan ini, tapi cukup kau fokuskan dirimu dengan mereka yang bisa hadir di setiap saat. Berilah penghargaan buat mereka, agar pundak mereka lebih kuat memikul semuanya.

Teman, setiap orang punya masanya, dan setiap masa ada orangnya. Ini adalah masamu, totalitaslah dalam memikul amanah. Ikhlaskan ketiadaanku di sana karena tempat lain masih membutuhkanku. Aku tidak ingin hanya air mata di akhir.

Teman, berjalanlah, berubahlah..
Izinkan aku memutar haluan, izinkan aku berfokus di pijakan lain

Kerana mereka yang lebih membutuhkanku..
Teman,, berjalanlah.. walau tanpa aku..

No comments:

Post a Comment